Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label culture. Show all posts
Showing posts with label culture. Show all posts

Tugu Jogja

Written By ari susanti on Saturday, March 16, 2013 | 12:56 AM


jogja - Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.


Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton Yogyakarta berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut golong gilig itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.
Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.


Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.


Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.


Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.


Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian Kedaulatan Rakyat.


Sore hingga tengah malam, ada penjual gudeg (masakan khas Yogyakarta) di pojok Jl. Diponegoro. Gudeg di sini terkenal enak dan harganya wajar. Anda bisa makan secara lesehan sambil menikmati pemandangan ke arah Tugu Jogja yang sedang bermandikan cahaya.


Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.


sumber : www.yogyes.com

Monumen Jogja Kembali (Monjali)





Jogja - Bunyi sirene tanda istirahat dibunyikan dari pos pertahanan Belanda. Di bawah komando Letkol Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai menggempur pertahanan Belanda setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku penggagas serangan. Pasukan Belanda yang satu bulan semenjak Agresi Militer Belanda II bulan Desember 1948 disebar pada pos-pos kecil, terpencar dan melemah. Selama enam jam Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menduduki Kota Yogyakarta, setelah memaksa mundur pasukan Belanda. Tepat pukul 12.00 siang, sesuai dengan rencana, semua pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda.


Pertempuran yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret inilah yang menjadi awal pembuktian pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan serta menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada. Hal ini terpicu setelah Pemerintah Belanda yang telah menangkap dan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Sumatera, memunculkan propaganda dengan menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada.


Berita perlawanan selama enam jam ini kemudian dikabarkan ke Wonosari, diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India), dan berakhir di kantor pusat PBB New York. Dari kabar ini, PBB yang menganggap Indonesia telah merdeka memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 ini, wakil Indonesia yang dipimpin Moh. Roem dan wakil Belanda yang dipimpin Van Royen, menghasilkan sebuah perjanjian yang ditanda tangani pada tanggal 7 Mei 1949. perjanjian ini kemudian disebut dengan perjanjian Roem Royen (Roem Royen Statement). Dalam perjanjian ini Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia, serta memulangkan Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno-Hatta ke Jogja. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.


Makna Yang Tersirat dan Tersurat Dalam Tetengger Sejarah :
Untuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali). Peletakkan batu pertama monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun. Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.


Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis. " Poros Makro Kosmos atau Sumbu Besar Kehidupan" begitu menurut Pak Gunadi pada YogYES. Titik imajiner pada bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.


Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.


Replika Pesawat Hingga Ruang Hening :
Memasuki area monumen yang terletak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Jogja ini, pengunjung akan disambut dengan replika Pesawat Cureng di dekat pintu timur serta replika Pesawat Guntai di dekat pintu barat. Menaiki podium di barat dan timur pengunjung bisa melihat dua senjata mesin beroda lengkap dengan tempat duduknya, sebelum turun menuju pelataran depan kaki gunung Monumen. Di ujung selatan pelataran berdiri tegak sebuah dinding yang memuat 420 nama pejuang yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.


Monumen dikelilingi oleh kolam (jagang) yang dibagi oleh empat jalan menuju bangunan utama. Jalan barat dan timur menghubungkan dengan pintu masuk lantai satu yang terdiri dari empat ruang museum yang menyajikan sedikitnya 1.000 koleksi tentang Satu Maret, perjuangan sebelum kemerdekaan hingga Kota Yogyakarta menjadi ibukota RI. Seragam Tentara Pelajar dan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih tersimpan rapi di sana. Di samping itu, ada juga ruang Sidang Utama, yang letaknya di sebelah ruang museum I. Ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 25 meter ini berfungsi sebagai ruang serbaguna, karena biasa disewakan untuk keperluan seminar atau pesta pernikahan.


Sementara itu jalan utara dan selatan terhubung dengan tangga menuju lantai dua pada dinding luar yang melingkari bangunan terukir 40 relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan bangsa mulai dari 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. sejumlah peristiwa sejarah seperti perjuangan fisik dan diplomasi sejak masa Proklamasi Kemerdekaan, kembalinya Presiden dan Wakil Persiden ke Yogyakarta hingga pembentukan Tentara Keamanan Rakyat tergambar di relief tersebut. Sedangkan di dalam bangunan, berisi 10 diorama melingkari bangunan yang menggambarkaan rekaan situasi saat Belanda menyerang Maguwo pada tanggal 19 Desember 1948, SU Satu Maret, Perjanjian Roem Royen, hingga peringatan Proklamasi 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.


Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan, relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur. Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.


Selama ini perjuangan bangsa hanya bisa didengar melalui guru-guru sejarah di sekolah, atau cerita seorang kakek pada cucunya. Monumen Yogya Kembali memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana kemerdekaan itu tercapai. Melihat berbagai diorama, relief yang terukir atau koleksi pakaian hingga senjata yang pernah dipakai oleh para pejuang kemerdekaan. Satu tempat yang akan memuaskan segala keingin tahuan tentang perjalanan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.

sumber : yogyes.com

Anak-anak Lereng Merapi Tampilkan Teater ala Shakespeare

Written By ari susanti on Friday, March 15, 2013 | 11:50 PM


Anak-anak Lereng Merapi Tampilkan Teater ala Shakespeare



Jogja – Ratusan anak-anak yang tinggal di lereng gunung Merapi menampilkan aksi teatrikal dengan judul “Impen Wengi ing Merapi”, di Padepokan Seni Tjipta Boedaja, Senin (11/3/2013) malam.

            Pentas Impen Wengi ing Merapi merupakan ide seorang antrolopog etnomusikologi spesialis budaya Bali dan Jawa, Dr Chaterine Basset atau dikenal dengan Kati dengan mengadaptasi karya William Shakespeare, seorang penulis dan sastrawan legendaris dari Inggrisberjudul A Midsummer Night’s Dream, dengan memadukan kebudayaan Jawa, Bali, dan Eropa.

            Keheningan di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun malam itu berubah menjadi semarak. Riuh tepuk tangan terdengar dari  kegelapan saat puluhan bocah secara perlahan melangkah dari tengah sorot lampu berwarna netral. Gadis-gadis itu mengenakan kostum berwarna putih layaknya putri kerajaan yang penuh gemerlap mahkota berlapis emas.

            Dengan lemah gemulai mereka menari, menariknya, kain putih yang tiba-tiba memanjang di antara mereka menggelombang seiring gerakan tangan, menyerupai ombak di laut. Seorang perempuan kemudian menebarkan bunga di panggung. Kemudian diiringi dengan tokoh wayang layaknya kisah Arjuna mencari cinta yang memanah hati seorang gadis.

 Teater yang dipentaskan tersebut mengisahkan seorang gadis bernama Hermia yang dipaksa menikah dengan Demetrius, pria pilihan ayahnya. Namun, Hermia secara tegas menolak keinginan ayahnya itu, lantaran hatinya telah terpikat pada Lysander.

            Demetrius yang sangat beruntung itu terus saja mengejar Hermina. Sementara di tengah kasmaran, Demetrius didatangi gadis yang sama sekali tidak dia cintai, Hellena. Akhirnya, diapun semakin kalut karena takut kehilangan Hermina sebelum benar-benar dia dapatkan.

            Kondisi percintaan yang rumit ini kemudian membuat ratu peri muncul menggunakan ramuan ajaib yang menjadikan Demetrius dan Lysander jatuh hati kepada Hellena, gadis yang sebenarnya tidak dalam perebutan.

            Sutradara asal Perancis, Kati dengan dibantu dengan aktor di Theatre National Populaire Perancis, Nicolas Gonzales, menyajikan karya tersebut dengan konsep teater kolosal dengan kolaborasi musik gamelan dan gending-gending Jawa. Seni tari, seni musik dan budaya Eropa yang disandingkan dengan budaya asli anak-anak Merapi. Semuanya dikemas secara terpadu dan apik dalam suatu pertunjukan seni musik dan tari yang diperankan oleh anak-anak. Sajian ini, tentu saja sangat menarik perhatian sejumlah khalayak, turis asing dan warga sekitar. 

            Pementasan yang berdurasi sekitar 120 menit ini melibatkan sekitar 100 anak di sekitar lereng Merapi dari anak- anak SD hingga SMA. Meskipun beberapa pemain bukan berlatar belakang pemain teater, namun pertunjukan tersebut membuat ratusan penonton tak beranjak dari tempat duduk mereka.
“Ada kesamaan antara budaya barat dengan Jawa khususnya Merapi. Dari situ saya berusaha untuk melakukan sebuah pertunjukan dari dua budaya tersebut,” jelas Kati.

            Menurut Kati karya-karya Shakespeare yang dibuat pada abad 16 SM pun ternyata memiliki kesamaan dengan budaya Jawa. Ia kemudian tertarik dan tertantang untuk mengkombinasikan budaya tersebut.“Budaya perjodohan juga terjadi di Inggris dan bangsa barat lainnya. Selain itu, kepercayaan mitos kekuatan yang muncul selain manusia juga dipercaya oleh bangsa barat, seperti naskah Shakespeare,” kata Kati.

Kati mengaku mendapatkan tantangan selama proses penggarapan naskah yang dilakukan sekitar dua bulan. “Tantangannya terutama bagaimana memberikan pemahaman teks naskah terhadap  aktor yang rata-rata berusia 15-17 tahun dan belum pernah memainkan teater. Bisanya saya lakukan dengan mendekatkan emosi mereka ketimbang memberikan pemahaman teks naskah.

            Koordinator Pentas dari Tlatah Bocah, Gunawan Julianto menjelaskan pementasan tersebut ingin mengajak generasi masa kini bisa memilah nilai-nilai positif dari budaya barat. Ia mencontohkan, budaya barat serta Eropa lebih mementingkan ego. Kendati demikian, bila ada orang lain membutuhkan bantuan, maka akan menolong sepenuh hati.

“Berbeda dengan timur, yang seringkali memilih orang yang ditolong,” jelasnya.

Source : jogja.tribunnews

Pariwisata Gua Pindul di Gunungkidul


Pariwisata Gua Pindul di Gunungkidul



Jogja - Gua Pindul merupakan objek wisata yang sekarang sedang banyak diminati oleh banyak wisatawan. Selain susur sungai bawah tanah, ada juga layanan raffting dand offroad Kali Oya, dan susur Gua Gelatik. Konten situd ini cukup bagus, dirancang serta dikelola cukup serius, memudahkan pengunjung mengetahui hal ihwal Gua Pindul di situs ini.

 Metode pemasarran objek Gua Pindul via media sosial, weblog, dan situs web untuk kels gunungkidul boleh dibilang termasuk unggul. Persaingan barangkali baru wisata Gunung Api Purba Nglanggeran dan Jomblang Caving yang lebih eksklisif.


Dampak promosi tersebut baru sekitar 30 persen dari total kunjunggan. Promosi yang efektif tetap lebih banyak melalui agen-agen wisata.

Aris menjelaskan, meskipun pengaruhnya tidak terlalu signifikan, pihaknya tetap menjalankan promosi melalui jejaring sosial. Bahkan untuk memberikan pelayanan maksimal, ada dua petugas khusus untuk meng-update informasi melalui Facebook, Twitter, serta website.

Pendapat berbeda dikemukakan Ketua Wira Wisata, Haris Punarman. Salah satu operator layanan wisata Gua Pindul ini menyebut efek promo via media sosial mencapai 70 persen dari total kunjungan. 

"Hampir tujuh puluh persen tamu yang datang ke Pindul mengetahui dari jejaring sosial. Pindul ramai karena jejaring sosial. Bahkan wisatawan berasal dr luar daeran DIY seperti jateng dan sekitarnya.


Source : jogja.tribunnews
 
Support : Creating Website | Arie Template | Arie Template
Copyright © 2013. DETIK JOGJA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Arie Template
Proudly powered by Blogger